PERIHAL ISLAM

15 05 2008

Penulis : Thoriqul Haq

Islam menurut Shari’ati—seorang tokoh revolusi Iran—bukanlah agama yang hanya memperhatikan aspek spiritual dan moral atau hubungan individual dengan penciptanya, tetapi lebih merupakan suatu ideologi emansipasi dan pembebasan.

Shari’ati melihat adanya dua macam Islam, yaitu Islam sebagai Ideologi dan Islam sebagai budaya. Islam sebagai Ideologi dibentuk oleh Abu Dzar, Abu Dzar adalah salah seorang dari tiga sahabat Ali, telah memilih jalan berperang untuk memperjuangkan Ali sebagai “Amirul Mukminin” yang beranggapan sebagai satu-satunya pengganti Nabi yang sah. dan Islam sebagai budaya dibentuk oleh Ibnu Sina (filsuf Islam abad XI). Islam sebagai ideologi melahirkan mujahid (pejuang dalam menegakkan agama Allah), sedangkan Islam sebagai budaya melahirkan Mujtahid (ulama). Raushanfikr membentuk Islam sebagai Ideologi, para ulama membentuk Islam sebagai budaya.

Islam lahir secara progresif dalam upaya merespon beberapa problem masyarakat untuk mencapai tujuan dan cita-cita yang berharga. Dalam konteks ini Islam lebih dipahami sebagai sebuah pandangan dunia komprehensif, sebuah rencana untuk merealisasikan potensi manusia sepenuhnya, baik secara perseorangan maupun kolektif, dan untuk tujuan mahluk manusia

secara keseluruhan. Disinilah letaknya bahwa Islam sebagai ideologi pembebasan.
Namun demikian, Islam dalam kerangka ideologi tersebut menjadi pemikiran yang reaktif semu ketika melihat keterbelakangan umat Islam saat ini. Adalah Malik bin Nabi dalam bukunya, “Syuruth an Nahdlah” mengungkapkan salah satu problem peradaban yang dialami umat Islam adalah karena mereka kurang mampu menggunakan daya pikir dan penalarannya. Hal ini karena mereka telah lama terlena dengan adanya penjajahan yang dilakukan oleh Barat. Kenyataan demikian diperkuat oleh Zaky Milad yang menulis buku tentang “Malik bin Nabi wa Musykilat al-Hadloroh”. Menurutnya, problem peradaban umat Islam disebabkan adanya “isti’mar”, penjajahan yang dilakukan Barat terhadap negara Islam. Saat itu umat Islam sangat potensial untuk dijajah, yang diistilahkan oleh Bin Nabi dengan “al-Qobiliyyat lil Isti’mar”. beberapa fenomena yang menimpa negara-negara Islam waktu itu yang mendorong berlangsungnya imprialisme berkepanjangan.

Ini merupakan fenomena sejarah umat Islam, setelah kurang lebih 800 tahun menguasai dunia kemudian menjadi kelas dua, setelah Barat. Hanya saja Malik bin Nabi optimis tentang peradaban umat Islam. Karena menurutnya peradaban itu berjalan di atas perputaran sejarah, akan berulang sebagaimana berputarnya matahari dan bulan. Hal ini – sesuai dengan teorri perputaran tadi – pada akhirnya nanti sejarah memihak pada umat Islam. Tentunya dengan beberapa kalkulasi strategis untuk menuju kebangkita tersebut, atau menurut istilah Bin Nabi, ada syarat-syarat yang harus dipenuhi dalam membangkitkan peradaban Islam. Tesis Bin Nabi yang terkenal mengenai peradaban terdiri dari tiga unsur, yaitu manusia, materi, dan waktu. Manusia sebagai unsur penggerak, sedangkan substansi materi dan waktu merupakan pendorong wujudnya peradaban.

Berikutnya menurut Hassan Hanafi, bahwa penerapan modernisasi umat Islam berarti sama dengan mensubordinasikan Islam ke dalam hegemoni barat. Karena hegemoni adalah universalisasi atau totalisasi seluruh lapisan dan kelompok masyarakat hingga menganut satu ideologi yang sama. Maka hegemoni barat atas umat Islam berada pada sistem ideologi barat, yaitu sistem kapitalisme. Inilah penyebab keterbelakangan umat Islam dewasa ini.

Untuk itu dalam mengatasi keterbelakangan Islam ini, diperlukan upaya rekonstruksi, pengembangan dan pemurnian tradisi Islam yang berakar pada tradisi Islam itu sendiri, yang oleh Hasan Hanafi dikatakan sebagai berakar pada dimensi revolusioner khazanah intelektual.
Melihat hal tersebut, Hasan Hanafi dengan Kiri Islam-nya sangat menentang peradaban barat, khususnya imperialisme ekonomi dan kebudayaan. Hassan Hanafi berusaha memperkuat umat Islam dengan memperkokoh tradisinya sendiri. Karena itu, tugas Kiri Islam Pertama, melokalisasi Barat pada batas-batas alamiahnya dan menepis mitos dunia Barat sebagai pusat peradaban dunia serta menepis ambisi kebudayaan Barat untuk menjadi paradigma – dalam makna Kuhn atau Hegemoni dalam pengertian Gramsci – kemajuan bagi bangsa-bangsa lain. Kedua, mengembalikan peradaban Barat pada batas-batas ke-baratan-nya, asal-usulnya, kesesuaian dengan background sejarahnya, agar Barat sadar bahwa terdapat banyak peradaban dan banyak jalan menuju jalan kemajuan. Ketiga, Hasan Hanafi menawarkan suatu ilmu untuk menjadikan barat sebagai obyek kajian, yakni sebagaimana dia menulis dalam muqaddimah fi al-istighrab (introduction to oksidentalisme). Oksidentalisme bagi Hasan Hanafi merupakan suatu upaya menandingi Orientalisme dan meruntuhkannya hingga ke akar-akarnya. untuk mengembalikan citra Islam, ia memberikan jalan dengan melakukan reformasi agama, kebangkitan rasionalisme dan pencerahan. Sehingga Ketika ada sebuah penilain terhadap Islam, akan lebih proposional dengan menggunakan pendekatan historis, terutama kebudayaan dan sistem sosial Arab.

Sesungguhnya, aspek yang terpenting dalam pembangunan dasar bertolaknya Islam kepada keterbukaan perubahan adalah bagaimana dapat mengakomodir realitas dengan doktrin. Islam tentunya berkembang dalam segala bidang untuk menjadi pencerah pengembangan kehidupan masyarakat. Dasar utamanya adalah keterbukaan dalam arus pemikiran yang tidak lagi hegemonik untuk berhadapan dengan laju sosial budaya yang sedang berkembang. Dalam massifikasi pergulatan pemikiran, kepentingannya Islam jelas untuk membangkitkan ranah global Islam yang akan sangat menentukan dalam pembentukan pertembungan Islam dengan pelbagai aspek sosio budaya masyarakat Islam.

Ala Kulli Hal, Islam menjadi ruh – bukan untuk Islamisasi – yang mengetengahkan eksplorasi segala bentuk pengembangan yang beriring sejajar dengan Islam. dan di sini meletakkan lunaknya Islam dalam menjawab harapan dan angan-angan terhadap segala kemajuan.

Wallahul Muwaffiq Ilaa Aqwamith Thoriq

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: