MEMAKNAI JIHAD

15 05 2008

Penulis : Thoriqul Haq

Berangkat dari perdebatan tematik idiologis yang terus berhembus dalam pemahaman “jihad” yang tidak konsisten, maka perlu kiranya menelaah landasan pembentukan kata tersebut baik secara idiologis maupun sosiologis. Hal ini sangat dimungkinkan karena “jihad” yang selama ini diperdebatkan, selalunya merujuk pada definisi al-Qur’an yang secara sosiologis terbentuk tidak dalam waktu yang sekaligus. Sejarah mencatat bahwa pembentukan ayat-ayat yang ada dalam al-Qur’an mengikuti perkembangan kondisi sosial masyarakat saat itu. Sehingga ada makkiyyah (ayat yang turun sebelum Nabi hijrah) dan madaniyyah (ayat yang turun setelah Nabi hijrah).

Kata “jihad” dalam bahasa Arab memiliki ragam makna yang tidak sedikit. Sambungan kata-kata yang meyertainya-pun bisa berbeda-beda. Biasanya, kata yang demikian mempunyai ketergantungan dengan kata lain sehingga terbentuk makna yang berfariasi. Bahkan secara sosiologis dapat menjadi kata yang tidak sama pada suatu keadaan sosial yang berbeda, walaupun dalam sambungan kata yang sama. Dengan pemahaman demikian, kata “jihad” dapat dikategorikan sebagai kata yang berpengaruh dengan kaedah semantik dan kondisi sosiologis.

Pada masa jahiliyah, Kata “jihad” telah ada sebagai bentuk kata yang memiliki konteks sosial sendiri. Sebagaimana para penyair pada masa jahilyah menggunakan kata “jihad” sebagai kata yang memiliki makna “at-Thoqoh atau al-Wus’u” (kekuatan atau kemampuan). sedangkan dalam bentuk sighot al-amri (kalimat perintah) pada masa jahiliyah, “jihad” bisa bermakna “al-istifragh” (mencurahkan segala kemampuan). Kata “jihad” ini sering digunakan dalam beberapa bait sya’ir yang bertema al-madhu (pujian), al-fakhru wa al-hammasah (kebaggaan dan keberanian) atau al-haja (sindiran atau ejekan). Secara sosiologis, kata “jihad” pada masa jahiliyah dapat digunakan dalam konteks makna bahasa yang saling melakukan harmonisasi pujian dan kebanggaan antara sesama kelompok, bahkan juga bisa terjadi dalam egoisme yang saling mengejek dan menyindir antara suku dan kelompok. Beberapa karateristik kata “jihad” ini bisa dilihat dalam sya’irnya tokoh penyair jahiliyah seperti Maimun bin Qoisy dan al-Ahihah bin al-Jalah. Kalau dilihat lebih spesifik, kata “jihad” pada masa jahiliyah tidak terdapat kandungan idiologis yang hegemonik untuk melakukan reaksi fisik terhadap kelompok atau idiologi lain. Justru lebih banyak terdapat identitas makna yang membedakan secara sosial dan kelas sebagai bentuk dan akibat dari reaksi keberlangsungan kehidupan sosial.

Masih pada masa jahiliyah. Dalam beberapa kata yang mendampingi kata “jihad” lebih mempunyai relasi makna yang berhubungan dengan kehidupan kemanusiaan, al-jihad fi al-‘amal (berkemampuan untuk bekerja), al-jihad fi al-mal (berkemampuan harta benda), al-jihad fi al-fikr (kemampuan berfikir). Dari fenomena ini dapat memberikan gambaran bahwa kata “jihad” dalam pemakaian struktur bahasa Arab jahiliyah lebih memiliki sosiosemantik yang humansitik. Kecenderungan ini bisa dibenarkan ketika “jihad” diambil dari kata dasar “jahada” yang kemudian menjadi kata “jihad”.

Selanjutnya, pada perkembangan pembentukan kata “jihad” setelah kedatangan al-Qur’an, mengalami pelbagai proses perubahan makna yang dalam satu ayat kepada ayat yang lain terus melengkapi. Di dalam al-Qur’an terdapat empat puluh satu kata “jihad” yang berasal dari kata dasar “jahada”. Kata ini terdiri dari empat kata “jihad” (berjuang), lima belas kata perintah “jaahaduu” (berjuanglah kamu sekalian), enam kata “jahda” (bersungguh-sungguh), empat kata “tujahidu atau yujahidu” (berjuang), dan sebagian lainnya digunakan dalam makna kata yang tidak bersentuhan dengan kata “jihad”

Pemaknaan kata “jihad” ini semakin berkembang pada beberapa kata yang menyertai dan bersambung dalam suatu rangkaian makna. Dan kesan yang terjadi dalam semantik adalah kata-kata yang mempunyai kecenderungan makna idlofi (relasional meaning). Rangkaian makna ini bisa terjadi dengan melakukan pemakaian kata yang sesuai secara sifat dan logika makna. Di dalam al-Qur’an kata “jihad” mempunyai variasi makna yang tergantung terhadap kata apa yang akan mendampingi. Dari empat puluh kata “jihad” yang ada dalam al-Qur’an, sebagian besar memberikan makna “berjuang”, makna ‘berjuang’ ini akan selalu bersama dengan “fi sabilillah” (di jalan Allah). Sambungan kata ini di dalam al-Qur’an terdiri dari lima belas kata “fi sabilillah” yang terletak sebelum maupun sesudahnya, dan selanjutnya akan diteruskan dengan kata “bi amwali” (dengan harta) dan “anfus” (raga) yang terdiri dari sepuluh kata sambungan dengan “jihad”. Sebagaian besar kata “jihad” yang lain – diambil dari kata dasar “jahada” – tidak berarti “berjuang” jika tidak didampingi denga “fi sabilillah”. Sebagaimana kata “jahda” (bersungguh-sungguh) yang selalu bersambung sebelum dan sesudahnya dengan kata “aqsam” dan “aimaan” (sumpah).

Sedangkan “jihad” pada kalimat perintah lebih banyak menggunakan kata “Jaahaduu” (berjuanglah kalian semua) yang sebagian besar bersambung dengan “fi sabilillah” (di jalan Allah) dan “bi amwalikum wa anfusikum” (dengan harta benda dan raga kamu). Sementara kata asli “jihad” yang diambil dari kata dasar “jaahada” yang bermakna “li al-musyarakah” (saling melakukan suatu pekerjaan) hanya ada empat kata dalam al-Qur’an dan ada satu kata yang tidak bersambung dengan “fi sabilillah”, tetapi kesemuanya – kata asli “jihad” – tidak langsung bersambung dengan “amwal” atau “anfus”.

Srtuktur kata yang ada dalam rangkaian kata “jihad” di dalam al-Qur’an menunjukkan bahwa secara idiologis kata “jihad” akan bermakna berjuang bila bersambung dengan “sabilillah” (jalan Allah). Namun demikian ada keterangan makna yang tidak dapat dipisahkan yaitu “amwal” dan “anfus” (harta benda dan raga), tentunya struktur kata ini melegitimasikan kepentingan sosiologis bagi umat Islam untuk saling memberikan kesejahteraan, kemakmuran, dan ketentraman. Hal ini sangat jelas karena kalimat yang didahulukan adalah amwal (harta benda) bukan anfus (raga). Beberapa kata “jihad” yang bermakna berjuang atau berperang, adalah murni dari kepentingan sosiologis zaman Nabi untuk saling memberikan ketentraman dan kesejahteraan dari gangguan secara fisik oleh kelompok lain (kafir Quraisy waktu itu). Sedangkan pada fenomena lain, Nabi tidak memerangi orang-orang kafir yang dapat hidup bersama dan tidak mengganggu, walaupun mereka melakukan perbuatan yang tidak sesuai dengan moral ajaran Islam. Sehingga sangat menjadi keraguan secara Qur’ani apabila kata “jihad” dimaknai dengan suatu akibat yang menimbulkan kerusakan, kekhawatiran, kegelisahan bagi umat manusia, apalagi bagi umat Islam sendiri yang sama-sama mengakui Allah adalah Tuhan satu-satunya yang patut disembah.

Kalaupun diartikan secara harfiyah, tentu akan memiliki dampak revolusi pembentukan ekonomi umat Islam yang visioner. Karena dalam sejarah umat Islam, harta selalu menjadi perebutan yang mengakibatkan kehancuran umat Islam. Karena esensi makna “jihad” adalah “amwal” (harta) dan “anfus” (jaminan kesejahteraan). Sedangkan pemaknaan “jihad” dengan mengusung peranan politik dengan simbol Islam, justru tidak menjadi kombinasi kata yang saling melengkapi secara makna. karena dalam sejarah pembentukan kata “jihad” mempunyai perbedaan relasi makna dengan “siyasah” (politik), dan keduanya tidak ditemukan dalam beberapa persesuaian kata. Konteks Ini melihat dari “jihad” dan “siyasah” yang tidak terdapat dalam kesamaan penggunaan kata dalam al-Qur’an untuk kepentingan agama.

Pemakaian makna kata “jihad” dalam konteks berjuang dengan organ fisik yang menghancurkan (perang) tidak introspectionism, sebuah kajian yang mengedepankan proses akal sehat dan melihat pada realitas sosial. Karena ada mental idiologi yang menyebutkan, bahwa Islam mengutamakan kaidah kemaslahatan bagi seluruh alam (rahmatan lil alamin) atau Islam yang secara tegas mengatakan “tidak ada paksaan dalam agama”. Atau dalam penegasan yang lain “bagimu agamamu, bagiku agamaku”. Konsep makna teks yang ada dalam al-Qur’an ini mestinya tetap menjadi keutuhan analisis terhadap pemaknaan dari teks yang lain yang secara sosiologis tidak saling bertentangan. Sehingga ada pengaharapan untuk menjadikan teks al-Qur’an lebih bisa difahami dalam rasionalitas kehidupan sosial yang lebih plural. Dan akhirnya bisa ditunjukkan bahwa al-Qur’an lebih tinggi isi kandungan dan nilainya dengan kitab-kitab suci yang lain.

Sementara itu, “sabilillah” justru menjadi kata kunci terhadap pemaknaan kata “jihad” (jihad fi sabilillah). Kata kunci yang dimaksud disini adalah memahami kata yang telah menjadi kesatuan makna dalam pelbagai kondisi yang berbeda. Penggunaan kata kunci ini terus terpakai baik dalam teks al-Qur’an maupun beberapa teks lain yang mempunyai legitimasi makna yang sama. Sehingga pada proses ini, persambungan kata “jihad” dan “sabilillah” menjadi kata sambung yang mereaksikan beberapa keadaan yang sarat dengan latar belakang teks. Dan bisa dimungkinkan terjadi perdebatan realitas sosial dari penggunaan kata “jihad”.

Bersandar dari pemahaman yang luwes ini, “sabililllah” sebagai kata yang memiliki kekuatan moral idiologis, tentunya menjadi pilihan kata yang sangat selektif untuk dapat disandingkan dengan kata “jihad”. Selektifitas ini nampak dari sedikit persambungan kata lain – selain “jihad” dan “sabilillah” – yang bersesuaian dalam beberapa ayat al-Qur’an. Dan ini menunjukkan adanya keterkaitan makna yang sangat general untuk dapat memberikan pemahaman dari sekian relasi makna nilai-nilai Islam. Karena dalam kemungkinan tertentu “sabilillah” dalam relasi maknanya dapat diartikan dengan “al-adalah (keadilan), al-musawah (persamaan), at-tahririyyah (kebebasan), al-muhasabah (introspeksi), al-muhasanah (kebaikan), bahkan ad-demoqrathiyyah (demokrasi)”. Sehingga kemungkinan yang sangat ideal dalam memahami “sabilillah” adalah memahami interpretasi lain yang tidak jauh dari teks al-Qur’an itu sendiri.

Sebenarnya, reaksi yang sering menjadi kontroversi dari sekian ragam permahaman “jihad”, adalah berangkat dari realitas yang dipaksakan dengan teks. Situasi ini memungkinkan adanya pra anggapan yang telah menjadi kesimpulan sebelum analisis dilakukan. Kemunculannya justru tidak melakukan klarifikasi dengan segala dimensi teks, sehingga teks tersebut keluar dari kaidah-kaidah yang seharusnya di gunakan. Dan yang sangat di sesalkan adalah menjustifikasi kebenaran normatif menjadi kebenaran Tuhan.

Ala kulli hal, al-Qur’an adalah petunjuk bagi umat manusia. Proses untuk menjadi petunjuk tersebut tidak membatasi perbedaan golongan, kelas sosial, budaya, politik, bahkan perbedaan agama. Karena al-Qur’an sudah menjadi milik umat manusia (hudan linnas) bukan hanya “hudan lil Islam” (petunjuk bagi umat Islam saja).

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: