SIMULASI METODE PENAFSIRAN AL-QUR’AN

15 05 2008

Penulis : Thoriqul Haq

Pendahuluan.

Tulisan ini sebagai analisis dalam memberikan argumentasi terhadap problematika penafsiran al-Qur’an yang sangat dinamis dengan hadirnya berbagai disiplin ilmu yang menyertainya. Catatan penting lagi, bahwa klaim idiologis al-Qur’an sebagai teks suci masih sangat dogmatis, walaupun telah banyak pendapat yang mencoba merumuskan kembali posisi al-Qur’an sebagai teks. Termasuk diantaranya Arkoun, Hasan Hanafi, Naser Hamed Abu Zaid, dan pemikir Islam lainnya.

Perbedaan penafsiran dengan berbagai latar belakang seorang penafsir serta disiplin ilmu yang digunakan, menunjukkan bahwa teks al-Qur’an telah sedemikian global dan luas yang dapat diterjemahkan dengan berbagai kondisi dan situasi yang sedang berkembang. Sehingga pada persoalan ini, al-Qur’an dapat dijadikan sebagai “komoditi” sosial yang sesuai dengan kehendak pelaku sosialnya. Dari dinamika ini, bisa saja menjadi imbas dengan klaim penafsiran yang tidak akomodatif, radikal, menindas dan terminologi negatif lainnya. Akhirnya yang muncul adalah pertanyaan mengapa al-Qur’an bisa menjadi konfrontatif ?
Baca entri selengkapnya »





PERIHAL ISLAM

15 05 2008

Penulis : Thoriqul Haq

Islam menurut Shari’ati—seorang tokoh revolusi Iran—bukanlah agama yang hanya memperhatikan aspek spiritual dan moral atau hubungan individual dengan penciptanya, tetapi lebih merupakan suatu ideologi emansipasi dan pembebasan.

Shari’ati melihat adanya dua macam Islam, yaitu Islam sebagai Ideologi dan Islam sebagai budaya. Islam sebagai Ideologi dibentuk oleh Abu Dzar, Abu Dzar adalah salah seorang dari tiga sahabat Ali, telah memilih jalan berperang untuk memperjuangkan Ali sebagai “Amirul Mukminin” yang beranggapan sebagai satu-satunya pengganti Nabi yang sah. dan Islam sebagai budaya dibentuk oleh Ibnu Sina (filsuf Islam abad XI). Islam sebagai ideologi melahirkan mujahid (pejuang dalam menegakkan agama Allah), sedangkan Islam sebagai budaya melahirkan Mujtahid (ulama). Raushanfikr membentuk Islam sebagai Ideologi, para ulama membentuk Islam sebagai budaya.
Baca entri selengkapnya »





MEMAKNAI JIHAD

15 05 2008

Penulis : Thoriqul Haq

Berangkat dari perdebatan tematik idiologis yang terus berhembus dalam pemahaman “jihad” yang tidak konsisten, maka perlu kiranya menelaah landasan pembentukan kata tersebut baik secara idiologis maupun sosiologis. Hal ini sangat dimungkinkan karena “jihad” yang selama ini diperdebatkan, selalunya merujuk pada definisi al-Qur’an yang secara sosiologis terbentuk tidak dalam waktu yang sekaligus. Sejarah mencatat bahwa pembentukan ayat-ayat yang ada dalam al-Qur’an mengikuti perkembangan kondisi sosial masyarakat saat itu. Sehingga ada makkiyyah (ayat yang turun sebelum Nabi hijrah) dan madaniyyah (ayat yang turun setelah Nabi hijrah).

Kata “jihad” dalam bahasa Arab memiliki ragam makna yang tidak sedikit. Sambungan kata-kata yang meyertainya-pun bisa berbeda-beda. Biasanya, kata yang demikian mempunyai ketergantungan dengan kata lain sehingga terbentuk makna yang berfariasi. Bahkan secara sosiologis dapat menjadi kata yang tidak sama pada suatu keadaan sosial yang berbeda, walaupun dalam sambungan kata yang sama. Dengan pemahaman demikian, kata “jihad” dapat dikategorikan sebagai kata yang berpengaruh dengan kaedah semantik dan kondisi sosiologis.
Baca entri selengkapnya »